Selasa, 24 Mei 2016

Bismillaahirrahmaanirrahim. Lanjutan drama

Babak 4
Pemain yang terlibat: Idrus, Bapak dan Ibu
Latar tempat: Di rumah ( Dapur)
Pengantar: Karena kesepakatan sudah dibuat, Idrus pun harus memberi kabar ini pada kedua orangtuanya. Entahlah kabar ini akan menjadikan hari yang panas semakin panas dirumah mereka yang sedikit lebih hangat ataukah sebaliknya.
Idrus: Assalamualaikum. Ibu- ibu, bapak- bapak
Ibu: Iya masuk sini, ayo sini makan sama ibu dan bapak
Idrus: Ibu, pasti capek kan.
Ibu: ya iya sih memangnya kenapa
Idrus: Jadi, nanti setelah makan biar idrus saja yang cuci piringnya
Ibu: Kamu yakin, banyak loh piringnya?
Idrus: Yah yakin lah bu. Terus Bapak pasti capek kan?
Bapak: Ya iyalah. Memangnya kenapa? Kamu mau pijitin
Idrus: Iya Pak
Bapak: Tumben, kamu aneh deh pasti kamu ada maunya kan sekarang
Ibu: Iya bapak betul pasti kamu ada maunya kan. Bilang saja sekarang kamu mau apa?
Bapak: Tas baru, seragam baru, sepatu baru, buku baru, motor baru...atau
Idrus: Aduh bapak bukan kok
Bapak: Terus apa?
Idrus: Aku mau minta uang pak. Untuk acara perpisahan di sekolah minggu depan
Bapak: Oh gitu, memangnya berapa?
Idrus: Rp. 1.000.000 pak
Bapak: Memangnya acaranya besar- besaran yah?
Idrus: Iya sih Pak, kami juga mengundang seorang DJ untuk memeriahkan acara kami
Ibu: Jadi, kapan kamu harus dikasih uangnya?
Idrus: Paling lambat sih 3 hari kedepan pak, bu
Ibu: Oh gitu. Oh iya mumpung kita sedang membicarakan tentang acara perpisahan ibu mau cerita sama tentang acara perpisahan ibu dulu
Idrus: Cerita saja bu!
Ibu: Ah nanti saja setelah selesai makan
Idrus: Iya bu
Babak 5
Pemain yang terlibat: Idrus, Bapak, Ibu
Latar: Di rumah ( Ruang tamu )
Pengantar: Setelah selesai dengan segala keletihannya, matahari pun semakin panas menyengat. Idrus bersama ibu dan bapaknya berkumpul di ruang tamu untuk melanjutkan hal yang sempat ditunda beberapa waktu yang lalu, napak tilas sang ibunda.
Idrus: Ibu, tadi kan janji mau cerita tentang acara perpisahan ibu dulu, cerita sekarang saja bu!
Ibu: Sebenarnya ini sih bukan cerita ibu saja tapi, juga cerita bapakmu. Kan dulu ibu sama bapak satu seekolah. Iya kan Pak?
Bapak: iya kita satu sekolahan dulu. Saat itu ibu adalah wanita tercantik di sekolah dan
Ibu: Tentu saja bapakmu laki- laki terganteng di sekolah
Idrus: Iya pak, bu tahu. Jadi ceritanya kapan nih bu?
Ibu: Yah sekarang. Dulu yah waktu ibu perpisahan acaranya dilakukan dengan sangat mewah
Idrus: Maksudnya? Mewah bagaimana bu?
Ibu: Beegini dulu Ibu, bapak sama teman- teman acara perpisahannya dulu itu dengan turun dan berpencar di jalan untuk mencari anak- anak atau orang tua yang tidak mampu. Lalu kita bantu mereka
Idrus: Maksudnya bantu bagaimana ibu?
Ibu: Yah bantu sedikitlah misalnya untuk anak- anak kita kasih mereka buku cerita yang sesuai dengan umur mereka dan juga beberapa makanan untuk mereka, dan kalau ada orang tuanya juga disitu yah orangtuanya yang kita kasih uang untuk sedikit membantu mereka untuk makan setidaknya untuk beberapa hari ke depan. Dan untuk jompo kami kasih uang untuk mereka. Kasihan banget mereka
Idrus: Dari mana uangnya bu?
Ibu: Yah dari patungan sama teman- teman
Idrus: Kok bikin acara begitu bu? Memangnya itu bisa dikatakan acara perpisahan ya?
Ibu: Tentu saja, lagipula kami semua waktu itu berpartisipasi jadi kebersamaanya sangat terasa
Idrus: Terus letak kemewahannya dimana? Kan panas- panasan begitu
Bapak: Memang kita panas- panasan tapi hasilnya setimpal karena kemewahan batin yang kami dapat
Idrus: Kemewahan batin?
Bapak: Iya. Saat itu kami betul- betul diajarkan untuk sadar betapa pentingnya bersyukur atas apa yang kita peroleh karena masih banyak orang- orang yang nasibnya bahkan tidak seberuntung kita.
Ibu: Kita juga belajar betapa nikmatnya berbagi kepada sesama. Berbagai ekspresi kami temukan saat itu. Mulai dari kebingungan anak- anak saat diberi buku cerita lalu berganti senyum saat diberi permen atau snack yang lain atau ekspresi haru dari para nenek- nenek jompo saat menerima bantuan dari kami yang tidak seberapa. Dan asal kamu tahu saja bahkan mereka seakan tidak pernah mau berhenti untuk berterimakasih. Yang membuat kami sadar bahwa ternyata bantuan yang kami berikan sangat berharga bagi mereka.
Anak: Apa memang ibu dan teman- teman semua merencanakan hal itu untuk acara perpisahan kalian?
Bapak: Sebenarnya tidak juga. Pada awalnya kami juga ingin membuat acara besar- besaran di sekolah atau tempat lain lah yang suasananya indah- indah seperti kamu dan teman- temanmu, tapi akhirnya tidak jadi dan hati kami tergerak untuk melakukan acara berbagi seperti itu
Anak: Apa  semua teman- teman ibu dan bapak sepakat dengan acara itu?
Ibu: Pada awalnya sih tentu saja tidak, bahkan sempat ada perdebatan yang cukup serius, sempat ada rasa tidak enak satu sama lain, sempat ada ngambek- ngambekkan yang membuat kami sendiri tidak yakin bahwa acara itu akan terlaksana, tapi alhamdulillah entah apa yang menyadarkan kami semua saat itu, hingga  kami terbangun untuk membantu orang- orang itu secara bersama- sama tanpa masalah apapun saat itu
Anak: Jadi, tidak acara dinnernya yah?
Ibu: Tentu saja ada, tapi dinner kami berbeda, kami dinner di pinggir jalan bersama ank0 anak jalanan, bernyanyi dan menari bersama mereka. Kami tidak membuat acara dinner khusus yang mengundang penyanyi terkenal atau artis terkenal lainnya yang tentunya menghabiskan banyak sekali dana, padahalkita sendiri tidak yakin tentang apa yang akan kita dapatkan dengan perayaan seperti itu
Anak: Iya yah,  aku mengerti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar